Kamis, 19 September 2013

PRILAKU ANAK CERMIN ORANGTUA.

BismiLLahir.. Rahmannir.. Rahim.

Anak Sebagai Cermin Orangtua.

Anak merupakan cermin dari kepribadian orang tua. Jika seseoramg ingin mengetahui karakteristik seseorang, maka cermin dari orang tersebut adalah anaknya. Pepatah Jawa sering mengatakan Kacang Manut Lanjaran. Pepatah ini sering terniang ditelinga kita, dan tidak asing dilingkungan masyarakat Jawa. Kalimat ini sangat simple dan sederhana, namun mengandung makna luar biasa. Islam memiliki kesamaan dengan pepatah di atas, Islam sangat menganjurkan kepada orang tua agar mendidik anak-anaknya sejak dini. Dalam istilah sekarang disebut dengan ‘’PAUD” Pendidikan Anak Usia Dini. Islam mengajurkan kepada orang tua agar mendidik anak-anakanya sejak masih dalam kandungan. Seorang suami hendaknya memberikan bimbingan terhadap istrinya dengan sholat tahajud, membaca al-Qur’an, serta amal ibadah sosial lainnya. Sebab, semua aktifitas orang tua (khususnya Ibu) mempengaruhi janin yang ada dalam kandungan. Para pakar dokter kandungan sepakat bahwa lingkungan juga mempengaruhi, ini telah diteliti secara ilmiyah. Jika Janin telah di kenalkan dengan nama-nama Allah atau ayat-ayat al-Qur’an maka anak yang akan lahir tersebut sudah mewarisi sifat-sifat yang ditanamkan orang tuanya dimasa kehamilanya. Jadi, aktifitas positif orangtua memberikan penggaruh signifikan terhadap prilaku anak yang masih dalam kandungan. Oleh sebab, itu sekarang mulai bermunculan pendidikan khusus wanita hamil. Realitas masyarakat Indonesia dan Islam pada umumnya banyak pembangunan yayasan, pesantren, Universitas serta banyak lagi lembaga pendidikan lainnya. Namun semakin hari moral generasi kita semakin jauh dari harapan agama, bahkan tindakan kriminalitas, kenakalan remaja, pengedaran narkotika semakin meningkat bahkan melibatkan pendidik dan aparat hukum. Ini menjadi PE ER bersama, umat Islam dari ulama, umara’ (pemerintah) masyarakat, serta orang berharta mesti bergandeng tangan mencari solusi dan memberikan pendidikan alternatif yang bisa mengurangi kenakalan remaja, kriminalitas, narkoba dll. Apakah sistem pendidikan nasionalnya, atau orang tuanya, atau gurunya, atau kurikulumnya? Banyak faktor yang meyebabkan terjadinya kenakalan remaja, narkoba, kriminalitas dinegeri ini. Namun kita sebagai orang tua perlu bercermin terhadap diri kita sendiri, dan mencari methode terbaik sesusai dengan tuntunan Islam. Bagaimana kita mendidik dan memberikan contoh sehari-hari terhadap anak kita, kemudian kita itu siapa? Kembali pada Kacang Manut Lancaran, sebenarnya orang tua tersebut contoh kongkret dari kehidupan anak-ankanya, karena apa yang dilakukan anak itu tidak jauh dengan apa yang dilakukan orang tua. Karena kurunan/genetik itu akan mengalir dalam tubuh manusia, namun agama adalah merupakan syarat utama untuk membentuk kpribadian anak. Sedangkan fenotik tidak terlalu berperan seperti halnya genetika. Jika ingin mempunyai anak yang cerdas, berbudi luhur, sopan santun taat terhadap orang tua. Sebagai orang tua harus memulai dari diri sendiri, sehingga apa yang dilakukan orang tua secara tidak langsung memberikan kontribusi terhadap pendidikan terhadap anak-anakanya.Fenomena yang sedang berkembang ialah, merajalelanya kenakalan remaja; seperti tawuran, minum, judi, dan ada juga yang men-jajakan diri (PSK) yang masih ABG. Ini juga menjadi cermin bagi orangtuanya masing-masing. Terlepas dari sistem pendidikan yang kurang baik, atau minimnya angaran anggaran pendidikan dari pemerintah atau juga kurang mutunya para guru, serta beberapa faktor lainya, namun yang paling jelas Al -wiirosah atau keturunan (genetik )sangat mempengaruhi sekali dalam pembentukan kepribadian anak. Baik kecerdasan, karakteristik, sifat dan ahalak dan kepribadianya. Jika terdapat sikap yang kurang baik yang terdapat pada kepribadian anak, kita mesti bercermin diri terhadap masa lalu serta melihat lagi nenek moyang terdahulu, sehingga orang tua akan lebih dewasa dan memahami dengan sebaik-baiknya dalam memberikan pendidikan terhadap anakanya tersebut. Dalam sebuah hadis, Rosulullah Saw diceritakan “suatu hari ada seorang suku Fazaroh datang kepada Rosulullah Saw dan berkata “Istriku telah melahirkan bayi laki-laki yang hitam. Nabi lalu bertanya kepadanya “Apa engkau mempuyai onta?” “Ya ” jawab orang itu. “Apa saja warna kulitnya?” tanya nabi Saw lagi. “Merah, ‘’ jawabnya singkat. “Apa ada yang berwarna abu-abu?”tanya beliau memperjelas. “ya, ada, ” jawabnya cepat. “Lalu dari mana datangnya warna itu ?” tanya Nabi. “Mungkin dahulu di antara onta-onta itu ada yang berwarna serupa. ” Memdengar jawaban itu, Maka Nabi Saw anakamu mungkihn begitu juga.

Percakapan dalam hadis tersebut merupakan bukti bahwa genetik mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan anak.. Jawaban Rosulullah terhadaap pertanyaan tersebut sebgai contoh bagi berikutnya bahwa apa yang kita lakukan merupakan cermin anak kita. Jika kita fahami secara konteporer bisa kita ambil sebuah kesimpulan bahwa hadis tersebut merupakan catatan bagi kita agar mencari pasangan yang terbaik dari segi genetic (nasab). Dengan demikian, keturunan (al wirosah) nanti betul-betul lebih baik dari kita. Disisi lain kita dituntut banyak meminta dan bedo’a kepada Allah sebagai langkah frekwentif (pencegahan) agar keturunan (anak-anak) tidak mewarisi sifat-sifat yang kurang terpuji yang dimilki orang tua. Langkah-langkah ferkwentif dalam memahami kandungan hadis tersebut agar keturuna lebih baik dan tidak mewarisi sifat yang madmumah:

Menjadikan Ibroh (contoh) apa yang kita lakukan merupakan cermin anak. Memulai memperbaiki diri sebagai langkah berniat dapat keturun yang baik. Mencari pasangan ( jodoh yang ) baik beriman dan berahlak karimah Memperbanyak do’a memohon kepada Allah agar dijauhkan keturunnya dari sifat yang tidak terpuji. Tidak kaget jika mempuyai anak yang lebih cerdas atau nakal dari orang tuanya.

Dari contoh hadis yang disebutkan diatas merupukan contoh bagi kita untuk mengajak kembali berfikir jika terdapat kejadian yang aneh terhadap keturunan yang berhubungan dengan sifat. Pendidikan dan kecerdasan karakteristik anak didik yang ada dilingkingn kita merupakan cerminan dari orang tuanya atau kakek-kakeknya. Jadi udah jelas bahwa genetik menjadi dasar pembentukan generasi akan datang. Itulah yang yang dimaksud kacang manut lanjaran, marilah kita jadi lanjaran yang baik buat anak-anak kita.

Wallalu a’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar