Kamis, 19 September 2013

PRILAKU ANAK CERMIN ORANGTUA.

BismiLLahir.. Rahmannir.. Rahim.

Anak Sebagai Cermin Orangtua.

Anak merupakan cermin dari kepribadian orang tua. Jika seseoramg ingin mengetahui karakteristik seseorang, maka cermin dari orang tersebut adalah anaknya. Pepatah Jawa sering mengatakan Kacang Manut Lanjaran. Pepatah ini sering terniang ditelinga kita, dan tidak asing dilingkungan masyarakat Jawa. Kalimat ini sangat simple dan sederhana, namun mengandung makna luar biasa. Islam memiliki kesamaan dengan pepatah di atas, Islam sangat menganjurkan kepada orang tua agar mendidik anak-anaknya sejak dini. Dalam istilah sekarang disebut dengan ‘’PAUD” Pendidikan Anak Usia Dini. Islam mengajurkan kepada orang tua agar mendidik anak-anakanya sejak masih dalam kandungan. Seorang suami hendaknya memberikan bimbingan terhadap istrinya dengan sholat tahajud, membaca al-Qur’an, serta amal ibadah sosial lainnya. Sebab, semua aktifitas orang tua (khususnya Ibu) mempengaruhi janin yang ada dalam kandungan. Para pakar dokter kandungan sepakat bahwa lingkungan juga mempengaruhi, ini telah diteliti secara ilmiyah. Jika Janin telah di kenalkan dengan nama-nama Allah atau ayat-ayat al-Qur’an maka anak yang akan lahir tersebut sudah mewarisi sifat-sifat yang ditanamkan orang tuanya dimasa kehamilanya. Jadi, aktifitas positif orangtua memberikan penggaruh signifikan terhadap prilaku anak yang masih dalam kandungan. Oleh sebab, itu sekarang mulai bermunculan pendidikan khusus wanita hamil. Realitas masyarakat Indonesia dan Islam pada umumnya banyak pembangunan yayasan, pesantren, Universitas serta banyak lagi lembaga pendidikan lainnya. Namun semakin hari moral generasi kita semakin jauh dari harapan agama, bahkan tindakan kriminalitas, kenakalan remaja, pengedaran narkotika semakin meningkat bahkan melibatkan pendidik dan aparat hukum. Ini menjadi PE ER bersama, umat Islam dari ulama, umara’ (pemerintah) masyarakat, serta orang berharta mesti bergandeng tangan mencari solusi dan memberikan pendidikan alternatif yang bisa mengurangi kenakalan remaja, kriminalitas, narkoba dll. Apakah sistem pendidikan nasionalnya, atau orang tuanya, atau gurunya, atau kurikulumnya? Banyak faktor yang meyebabkan terjadinya kenakalan remaja, narkoba, kriminalitas dinegeri ini. Namun kita sebagai orang tua perlu bercermin terhadap diri kita sendiri, dan mencari methode terbaik sesusai dengan tuntunan Islam. Bagaimana kita mendidik dan memberikan contoh sehari-hari terhadap anak kita, kemudian kita itu siapa? Kembali pada Kacang Manut Lancaran, sebenarnya orang tua tersebut contoh kongkret dari kehidupan anak-ankanya, karena apa yang dilakukan anak itu tidak jauh dengan apa yang dilakukan orang tua. Karena kurunan/genetik itu akan mengalir dalam tubuh manusia, namun agama adalah merupakan syarat utama untuk membentuk kpribadian anak. Sedangkan fenotik tidak terlalu berperan seperti halnya genetika. Jika ingin mempunyai anak yang cerdas, berbudi luhur, sopan santun taat terhadap orang tua. Sebagai orang tua harus memulai dari diri sendiri, sehingga apa yang dilakukan orang tua secara tidak langsung memberikan kontribusi terhadap pendidikan terhadap anak-anakanya.Fenomena yang sedang berkembang ialah, merajalelanya kenakalan remaja; seperti tawuran, minum, judi, dan ada juga yang men-jajakan diri (PSK) yang masih ABG. Ini juga menjadi cermin bagi orangtuanya masing-masing. Terlepas dari sistem pendidikan yang kurang baik, atau minimnya angaran anggaran pendidikan dari pemerintah atau juga kurang mutunya para guru, serta beberapa faktor lainya, namun yang paling jelas Al -wiirosah atau keturunan (genetik )sangat mempengaruhi sekali dalam pembentukan kepribadian anak. Baik kecerdasan, karakteristik, sifat dan ahalak dan kepribadianya. Jika terdapat sikap yang kurang baik yang terdapat pada kepribadian anak, kita mesti bercermin diri terhadap masa lalu serta melihat lagi nenek moyang terdahulu, sehingga orang tua akan lebih dewasa dan memahami dengan sebaik-baiknya dalam memberikan pendidikan terhadap anakanya tersebut. Dalam sebuah hadis, Rosulullah Saw diceritakan “suatu hari ada seorang suku Fazaroh datang kepada Rosulullah Saw dan berkata “Istriku telah melahirkan bayi laki-laki yang hitam. Nabi lalu bertanya kepadanya “Apa engkau mempuyai onta?” “Ya ” jawab orang itu. “Apa saja warna kulitnya?” tanya nabi Saw lagi. “Merah, ‘’ jawabnya singkat. “Apa ada yang berwarna abu-abu?”tanya beliau memperjelas. “ya, ada, ” jawabnya cepat. “Lalu dari mana datangnya warna itu ?” tanya Nabi. “Mungkin dahulu di antara onta-onta itu ada yang berwarna serupa. ” Memdengar jawaban itu, Maka Nabi Saw anakamu mungkihn begitu juga.

Percakapan dalam hadis tersebut merupakan bukti bahwa genetik mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan anak.. Jawaban Rosulullah terhadaap pertanyaan tersebut sebgai contoh bagi berikutnya bahwa apa yang kita lakukan merupakan cermin anak kita. Jika kita fahami secara konteporer bisa kita ambil sebuah kesimpulan bahwa hadis tersebut merupakan catatan bagi kita agar mencari pasangan yang terbaik dari segi genetic (nasab). Dengan demikian, keturunan (al wirosah) nanti betul-betul lebih baik dari kita. Disisi lain kita dituntut banyak meminta dan bedo’a kepada Allah sebagai langkah frekwentif (pencegahan) agar keturunan (anak-anak) tidak mewarisi sifat-sifat yang kurang terpuji yang dimilki orang tua. Langkah-langkah ferkwentif dalam memahami kandungan hadis tersebut agar keturuna lebih baik dan tidak mewarisi sifat yang madmumah:

Menjadikan Ibroh (contoh) apa yang kita lakukan merupakan cermin anak. Memulai memperbaiki diri sebagai langkah berniat dapat keturun yang baik. Mencari pasangan ( jodoh yang ) baik beriman dan berahlak karimah Memperbanyak do’a memohon kepada Allah agar dijauhkan keturunnya dari sifat yang tidak terpuji. Tidak kaget jika mempuyai anak yang lebih cerdas atau nakal dari orang tuanya.

Dari contoh hadis yang disebutkan diatas merupukan contoh bagi kita untuk mengajak kembali berfikir jika terdapat kejadian yang aneh terhadap keturunan yang berhubungan dengan sifat. Pendidikan dan kecerdasan karakteristik anak didik yang ada dilingkingn kita merupakan cerminan dari orang tuanya atau kakek-kakeknya. Jadi udah jelas bahwa genetik menjadi dasar pembentukan generasi akan datang. Itulah yang yang dimaksud kacang manut lanjaran, marilah kita jadi lanjaran yang baik buat anak-anak kita.

Wallalu a’lam

Rabu, 18 September 2013

TANAMKAN BUDI PEKERTI SEJAK DINI

Pentingnya Pendidikan Budi Pekerti Sejak Dini.

"BismiLLah..""

Secara umum Budi Pekerti berarti moral dan kelakuan yang baik dalam menjalani kehidupan ini. Ini adalah tuntunan moral yang paling penting untuk orang Jawa tradisional. Budi Pekerti adalah induk dari segala etika ,tatakrama, tata susila, perilaku baik dalam pergaulan , pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Pertama-tama budi pekerti ditanamkan oleh orang tua dan keluarga dirumah, kemudian disekolah dan tentu saja oleh masyarakat secara langsung maupun tidak langsung.

Pada saat ini dimana sendi-sendi kehidupan banyak yang goyah karena terjadinya erosi moral,budi pekerti masih relevan dan perlu direvitalisasi.

Budi Pekerti yang mempunyai arti yang sangat jelas dan sederhana, yaitu : Perbuatan( Pekerti) yang dilandasi atau dilahirkan oleh Pikiran yang jernih dan baik ( Budi).

Dengan definisi yang teramat gamblang dan sederhana dan tidak muluk-muluk, kita semua dalam menjalani kehidupan ini semestinya dengan mudah dan arif dapat menerima tuntunan budi pekerti.

Budi pekerti untuk melakukan hal-hal yang patut, baik dan benar.Kalau kita berbudi pekerti, maka jalan kehidupan kita paling tidak tentu selamat, sehingga kita bisa berkiprah menuju ke kesuksesan hidup, kerukunan antar sesama dan berada dalam koridor perilaku yang baik.

Sebaliknya, kalau kita melanggar prinsip-prinsip budi pekerti, maka kita akan mengalami hal-hal yang tidak nyaman, dari yang sifatnya ringan, seperti tidak disenangi/ dihormati orang lain, sampai yang berat seperti : melakukan pelanggaran hukum sehingga bisa dipidana.

Penanaman Budi Pekerti

Esensi Budi Pekerti, secara tradisional mulai ditanamkan sejak masa kanak-kanak, baik dirumah maupun disekolah, kemudian berlanjut dalam kehidupan dimasyarakat.

Dirumah dan keluarga Sejak masa kecil dalam bimbingan orang tua, mulai ditanamkan pengertian baik dan benar seperti etika, tradisi lewat dongeng, dolanan/permainan anak-anak yang merupakan cerminan hidup bekerjasama dan berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan.

Berperilaku yang baik dalam keluarga amat penting bagi pertumbuhan sikap anak selanjutnya. Dari kecil sudah terbiasa menghormat orang tua atau orang yang lebih tua, misalnya : jalan sedikit membungkuk jika berjalan didepan orang tua dan dengan sopan mengucap : nuwun sewu ( permisi), nderek langkung ( perkenankan lewat sini).

Selain berperilaku halus dan sopan, juga berbahasa yang baik untuk menghormati sesama, apakah itu bahasa halus ( kromo) atau ngoko ( bahasa biasa). Bahasa Jawa yang bertingkat bukanlah hal yang rumit, karena unggah ungguh basa( penggunaan bahasa menurut tingkatnya) adalah sopan santun untuk menghormat orang lain.

Bahasa kromo dan ngoko Pada dasarnya ada dua tingkatan dalam bahasa Jawa,yaitu : Kromo, bahasa halus dan ngoko, bahasa biasa. Bahasa kromo dipakai untuk menghormat orang tua atau orang yang perlu dihormat, sedangkan ngoko biasanya dipakai antar teman. Semua kata yang dipakai dalam dua tingkat bahasa tersebut berbeda, contoh : Bahasa Indonesia : Saya mau pergi. Kromo : Kulo bade kesah. Ngoko : Aku arep lunga.

Dalam percakapan sehari-hari, orang tua kepada anak memakai ngoko, sedang anaknya menggunakan kromo. Dalam pergaulan dipakai pula bahasa campuran yang memakai kata-kata dari kromo dan ngoko dan ini lebih mudah dipelajari dalam praktek dan sulit dipelajari secara teori.

Ora ilok, suatu kearifan Orang tua zaman dulu sering bilang : ora ilok,artinya tidak baik, untuk melarang anaknya.Jadi anak tidak secara langsung dilarang, apalagi dimarahi.Ungkapan tersebut dimaksudkan , agar si anak tidak melakukan perbuatan yang tidak sopan atau mengganggu keharmonisan alam. Misalnya ungkapan : Ora ilok ngglungguhi bantal, mengko wudhunen (Tidak baik menduduki bantal , nanti bisulan). Maksudnya supaya tidak menduduki bantal, karena bantal itu alas kepala. Meludah sembarang tempat atau membuang sampah tidak pada tempatnya, juga dibilang ora ilok, tidak baik. Tempo dulu, orang tua enggan menjelaskan, tetapi sebenarnya itu merupakan kearifan. Lebih baik melarang dengan arif, dari pada dengan cara keras.

Tembang yang bermakna

Pada dasarnya, pendidikan informal dirumah, dikalangan keluarga adalah ditujukan kepada harapan terbaik bagi anak asuh. Coba perhatikan ayah atau ibu yang meninabobokkan anak dengan kasih sayang melantunkan tembang untuk menidurkan anak , isinya penuh permohonan kepada Sang Pencipta, seperti tembang : Tak lelo-lelo ledung, mbesuk gede pinter sekolahe, dadi mister, dokter, insinyur. ( Sayang, nanti sudah besar pintar sekolahnya, jadi sarjana hukum, dokter atau insinyur).

Atau doa dan permohonan yang lain : Mbesuk gede, luhur bebudhene,jumuring ing Gusti, angrungkubi nagari ( Bila sudah dewasa terpuji budi pekertinya, mengagungkan Tuhan dan berbakti kepada negara).

Pendidikan tradisional zaman dulu mengandung kesabaran, nerimo ing pandhum, pasrah, ayem tentrem, tansah eling marang Pangeran ( selalu dengan sabar menerima dan mensyukuri pemberian Tuhan, pasrah. Pengertian pasrah adalah tekun berusaha dan menyerahkan keputusan kepada Tuhan.Hati tenang tentram, selalu ingat kepada Tuhan).Perlu digaris bawahi bahwa kepercayaan orang Jawa tradisional kepada Tuhan itu sudah mendarah daging sejak masa kuno, sehingga anak-anak Jawa sejak kecil sudah sering mendengar kata-kata orang tua : Kabeh sing neng alam donya iku ana margo kersaning Gusti. ( Semua yang ada didunia ini ada karena kehendak Tuhan).Sehingga bagi orang Jawa tradisional, apapun yang terjadi, akan selalu pasrah dan mengagungkan Gusti/Tuhan. Itu sudah menjadi watak bawaan yang mendarah daging.

Biasanya ketika anak mulai berumur lima tahunan, secara naluri mulai diterapkan ajaran unggah-ungguh, sopan santun, etika, menghormati orang tua dan orang lain. Inkulturisasi, penanaman etika ini sangat penting karena menjadi dasar supaya si anak hingga dewasa dapat membawa diri dan diterima dalam pergaulan dimasyarakat, mampu bersosialisasi dan punya budaya malu. Punya sikap mendahulukan kepentingan orang lain, peka dan peduli kepada sekeliling dan lingkungan. Punya kebiasaan hidup rukun dan damai, penuh kasih sayang dan hormat dilingkungan keluarga dan masyarakat. Penanaman sikap sejak dini ini penting karena akan merasuk dalam rasa, sehingga kepekaannya tidak mudah hilang.

Peduli Lingkungan Pendidikan yang mengarah kepada peduli dan kasih terhadap lingkungan dan alam, juga sudah dimulai sejak usia belia.Anak-anak diberi pengertian untuk tidak bersikap sewenang-wenang kepada binatang dan tanaman dan juga menjaga kebersihan alam, tidak merusak alam. Anak kecil yang dirumahnya punya binatang peliharaan seperti anjing, kucing, burung, selalu diberitahu oleh orang tuanya untuk merawat nya dengan baik, memberi makan yang teratur, dijaga kebersihannya, kandangnya juga bersih dan tidak boleh diperlakukan dengan sewenang-wenang dan justru harus dilindungi dan dikasihi.

Tanaman dan pepohonan juga harus dirawat dengan baik, disiram setiap sore, kadang-kadang diberi pupuk, dijaga supaya tumbuh subur dan sehat dan cantik penampilannya ,sehingga enak dipandang.

Tanaman yang dirawat akan membalas kebaikan kita, daunnya, , bunganya, buahnya, kayunya, akarnya, bisa memberi faedah yang berguna. Bumi tempat kita berpijak, juga harus dilindungi, diurus yang baik, jangan asal saja menggali-gali tanah ,kalau memang tidak ada tujuan yang bermanfaat.Sumber air juga harus dijaga, tidak boleh dikotori.

Prinsipnya, kita harus dengan sadar dan sebaik-baiknya merawat, menggunakan dan mensyukuri semua pemberian alam dan Sang Pencipta.

Pendidikan formal Selain pendidikan non-formal yang berkembang dan berpengaruh positif, pendidikan formal tentu saja mempunyai peran sangat penting.Anak dididik supaya cerdas dan punya budi pekerti.

Sejak ditaman bermain/Play group, TK,SD, anak diperkenankan dan dibiasakan bersosialisasi, ditanamkan etika, sopan santun, kebersihan, rasa kebersamaan, rasa kebersamaan dialam sebagai satu kesatuan kosmos, ditanamkan rasa solidaritas dan kasih sayang demi keselarasan, keseimbangan dan perdamaian.

Tentu juga diajarkan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam tradisi dan adat istiadat.

Dimasa penjajahan dulu, sekolah-sekolah pribumi seperti Taman Siswa, menanamkan pendidikan yang penuh dengan semangat juang dan nasionalisme, persatuan dan kesatuan dalam melawan penjajah.

Etika Pergaulan Sebagai bangsa yang berbudaya, sebaiknya semua pihak menampilkan sikap yang santun dalam pergaulan, membuat orang lain senang, dihargai. Orang itu senang bila dihargai, disapa dengan kata-kata yang baik, termasuk wong cilik, orang ekonomi lemah.Wong cilik akan santun kepada orang yang menghargai mereka. Orang santun, meski derajatnya tinggi, tidak sombong, ini orang yang berbudaya.Orang yang berperilaku baik, berbahasa baik, berbudi baik, selain dihargai orang lain, secara pribadi juga untung, yaitu akan mengalami peningkatan taraf kejiwaannya, mengalami kemajuan batiniah.

Pelajaran dari cerita wayang Cerita yang bersumber dari pewayangan juga penting untuk pendidikan budi pekerti secara umum. Bagi orang Jawa tradisional, apa yang dikisahkan dalam wayang adalah merupakan cermin dari kehidupan, oleh karena itu wayang sangat populer di Jawa sampai saat ini.

Pelajaran yang bisa ditarik dari pewayangan adalah , antara lain :

1. Didunia ini ada baik dan jahat, pada akhirnya yang baik yang menang, tetapi setiap saat yang jahat akan berusaha untuk menggoda lagi. 2. Ikutilah contoh dari sikap hidup Pandawa, lima satria putra Pandu yaitu Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa dan satria-satria yang lain yang mempunyai watak luhur, jujur, sopan. Mereka berjuang demi kebenaran, untuk kesejahteraaan rakyat dan negara. Mereka dengan tekun dan ikhlas mendalami spiritualitas, kebatinan. Mereka menggunakan kemampuan, kesaktiannya untuk tujuan yang mulia. Satria itu orang yang berbudi pekerti, berwatak luhur dan bertanggung jawab. Jangan mencontoh sikap para Korawa,seratus orang putra Destarata,yaitu Duryudana dan adik-adiknya beserta kroni-kroninya. Mereka itu tidak jujur, serakah mencari kekayaan materi dan kekuasaan, sikapnya kasar, tidak sopan, culas.Mereka digambarkan sebagai raksasa. Raksasa dalam bahasa Jawa adalah Buto artinya buta, tidak bisa membedakan yang baik dan yang jahat, yang salah dan yang benar. 3. Dari epoch Ramayana, Prabu Rama, Anoman dan anah buahnya punya watak satria luhur, sebaliknya Rahwana, Sarpakenaka adalah raksasa-raksasa yang rakus dan keji, tanpa rasa kemanusiaan. 4. Penghuni Alam Raya ini tidak hanya manusia, hewan dan mahluk yang kasat mata, tetapi juga ada mahluk-mahluk lain yang biasanya disebut mahluk halus, ada yang baik dan ada yang jahat wataknya. 5. Ada alam Kadewatan yang dihuni dewa dewi yaitu di Kahyangan. Penguasa Jagat Raya adalah Sang Hyang Wenang yang dalam pelaksanaannya memberi wewenang kepada Batara Guru. 6. Dalam hidupnya manusia selalu mensyukuri berkah dan anugerah Tuhan, selalu berdoa dan mengagungkan Tuhan, Sang Pencipta.Garis kehidupan manusia sesuai ketentuan yang diketahui dan diizinkan Tuhan.Titah bisa berkomunikasi dengan Sang Penguasa Jagat Raya, Tuhan melalui perantaraan dewa dewi ataupun secara langsung. Ini tentu merupakan anugerah Gusti kepada titahnya yang terpilih, tidak sembarang orang.Pemberitahuan Ilahi juga bisa diterima melalui wahyu secara langsung ataupun lewat mimpi.Dalam cerita wayang, seseorang bisa dikontak oleh utusan Kahyangan setelah bertapa ditempat yang sepi untuk beberapa saat(.Dewa-dewi dalam pengertian lain bisa disebut Malaikat atau Angels). 7. Manusia yang sudah diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan dibumi ini oleh Sang Pencipta, tidak layak kalau menyia-nyiakan hidupnya. Dia harus menjadi manusia yang berbudi pekerti, melaksanakan darma anak manusia untuk memayu hayuning bawana . ( Melestarikan bumi dan mempercantik kehidupan dibumi.)

. Legenda legenda tanah Jawa menggambarkan :

1. Adanya raja-raja dan penguasa yang adil dan tidak adil;ada yang baik, bijak, tetapi ada juga yang bengis dan kejam. 2. Kejujuran dan kelicikan. 3. Pahlawan dan pengkhianat 4. Negeri aman, adil makmur dan negeri yang serba semrawut dan kacau. 5. Kekuasaan untuk rakyat dan penyalahgunaan kekuasaan. 6. Masyarakat adil makmur tata tentram kerta raharja adalah suasana kehidupan masyarakat yang didambakan orang Jawa.

Tatakrama dan Tata Susila

Tatakrama dan Tata Susila juga tak terlepas dari budi pekerti. Berlaku sopan, bertatakrama yang meliputi sikap badan, cara duduk, berbicara dll. Misalnya dengan orang tua berbahasa halus/kromo, dengan teman berbahasa ngoko. Bahasa Jawa memang unik, dengan mudah bisa menunjukkan sifat tatakrama seseorang.

Menghormati orang tua, guru, pinisepuh adalah wajib, tetapi tidak berarti yang muda tidak dihormati. Hormat kepada orang lain itu satu keharusan. Itu kesemuanya termasuk dalam Tata Susila- etika moral, yang juga meliputi :

1. Jujur, tidak menipu, welas asih kepada sesama. Berkelakuan baik tidak melakukan Mo Limo, yaitu : Main/berjudi; madon/main perempuan atau selingkuh;mabuk karena minuman keras;madat menggunakan narkoba dan maling .Tentu saja tindakan jahat yang lain seperti membunuh, menista, mengakali,memeras, menyuap, melanggar hukum dan berbuat kejam ,harus tidak dilakukan. 2. Berperilaku baik dengan menghindari perbuatan salah, supaya nama baik tetap terjaga dan supaya tidak kena malu.Terkena malu bagi orang Jawa tradisional adalah kehilangan kehormatan.Ada pepatah Jawa menyatakan : Kehilangan semua harta milik itu tidak kehilangan apapun; kehilangan nyawa artinya kehilangan separoh hidup kita; tetapi kalau kehilangan kehormatan artinya kehilangan semuanya. 3. Memelihara kerukunan, bebas dari konflik diantara keluarga, tetangga, kampung, desa, selanjutnya ditingkat negara dan dunia, dimana hubungan harmonis antar manusia teramat penting. Kerusakan dan kekacauan yang timbul didunia ini, yang paling besar adalah dikarenakan oleh sikap manusiaIngatlah pepatah : Rukun agawe santoso artinya : Rukun membuat kita sehat kuat. 4. Bersikap sabar, nrimo artinya menerima dengan ikhlas dan sadar jalan kehidupan kita dan tidak perlu iri kepada sukses orang lain Ingin hidup sukses harus berusaha dengan keras dan rajin dan mohon restu Tuhan, hasilnya terserah Tuhan. 5. Tidak bersikap egois yang hanya mementingkan diri sendiri. Ada petuah : Sepi ing pamrih, rame ing gawe.artinya bertindak tanpa pamrih dan selalu siap bekerja demi kepentingan masyarakat dan kesejahteraan umat.Sikap yang demikian ,mudah menimbulkan tindakan ber-gotong royong, baik dalam lingkungan kecil maupun besar. 6. Gotong Royong adalah kerjasama saling membantu dan hasilnya sama-sama dinikmati. Ini bisa berlaku diskop kecil seperti antar tetangga kampung yang merupakan kebiasaan yang sudah berjalan sejak masa kuno. Yang digotong royongkan antara lain : sama-sama membersihkan jalan desa, memperbaiki pra sarana seperti jalan desa, saluran air, balai desa dsb.Ada juga yang bergotong royong ramai-ramai membangun rumah seorang warga dll. Jadi pada intinya gotong royong adalah kerjasama antar beberapa pihak yang menghasilkan nilai lebih dipelbagai bidang yang dikerjakan bersama tersebut. Dasar gotong royong adalah sukarela dan untuk kepentingan bersama yang meliputi bidang-bidang perawatan, pembangunan, produksi dll.Tiap peserta akan menangani bidang pekerjaan yang merupakan kemahirannya dan itu akan bersinerji dengan ketrampilan peserta lain dan proyek akan berjalan lancar.Berdasarkan pengalaman yang sukses dari gotong royong lingkup kecil, gotong royong bisa dipraktekkan berupa sinerji yang berskala nasional, regional ,bahkan internasional.

Kembali ke Budi Pekerti

Pada saat keprihatinan melanda kehidupan dinegeri tercinta ini dan itu sebab pokoknya adalah kemerosotan moral dan hukum yang sulit ditegakkan , kebenaran diplintir , rasa malu hilang entah kemana, mana yang baik mana yang buruk dikaburkan, tata susila tak diperhitungkan.Lalu dimana pula kejujuran?Yang lagi ngetrend pada saat ini adalah janji-janji, terutama janjinya para politikus. Ini katanya zaman krisis multi dimensi, kalau orang dulu bilang : Ini zaman edan !

Dalam keadaan sulit seperti apapun, tentu ada jalan keluarnya, tidak semua orang bersifat jelek, tidak semua pemimpin lupa diri, ada masih anak bangsa yang berkwalitas, jujur, pandai, trampil, trengginas,berani hidup sederhana, dalam perilaku dan tindakannya didasari nurani dan berkah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang . Inilah anak bangsa, satria bangsa yang mumpuni dan akan mrantasi gawe, mengentaskan bangsa dan negara ini dari keterpurukan dan membawa kekehidupan yang lebih baik , sejahtera, aman, adil dan makmur.

Kalau kita merenung dengan hening, berbicara dengan nurani, tiada sedikit keraguan bahwasanya Budi Pekerti yang sarat dengan ajaran luhur moral dan etika dan kepasrahan kepada Tuhan, merupakan resep mujarab supaya bangsa dan negara terlepas dari segala keruwetan yang dihadapi ( Ngudari ruwet rentenge bangsa lan negara ).

Krisis yang dihadapi akan ditanggulangi dengan baik bila kita semua, terutama mereka yang menjadi pemimpin, priyayi, birokrat, dengan sadar dan mantap, melaksanakan semua tindakan dengan dasar budi pekerti.

Budi Pekerti yang merupakan kearifan lokal, pada dasarnya mengandung nilai-nilai universal. Budi Pekerti akan membangkitkan kepribadian yang berkwalitas : tanggap ( peka), tatag ( tahan uji), dan tanggon (dapat diandalkan).

JagadKejawen,